Membawa Remajaku Jauh Dari HIV/AIDS

Di kamar senyap pengap ini aku terpekur..
Dengan tetes infus yang menetes pelan, sepelan waktu bergulir.
Oh, ingin ku undang malaikat maut datang, menyeretku ke akhirat.
Tak tahan lagi ku tanggung derita ini.
 
Semua bermula dari keputusan “kecil”ku.
Mama, aku cuma ingin sekali saja nonton bareng dengannya.
Papa, aku cuma penasaran nikmatnya kepulan asap rokok.
 
Tuhan…
Aku tidak tahu, itu tidak akan pernah hanya berakhir disitu.
Kamar kos, jarum suntik, oh Mama, betapa dalam anakmu jatuh.
Kenikmatan sesaat itu papa, tak pernah ijinkanku berhenti.
 
Tak pernah memang penyesalan itu datang duluan.
Tak guna memang kusesali semua.
Aku terlalu muda Tuhan, walau ku tahu itu bukan alasan.
Sekarang aku disini, entah kemana harus ku teriak.
Adakah mama dan papa masih disana, atau teman baikku masihkah ingat?
Atau Tuhan diatas sana, masihkah sudi Ia berpaling..
Kala dari hati yang paling remuk, aku memanggil.

Anda yang pernah remaja, tentu tahu rasanya ingin diperhatikan, ingin dihargai, ingin dipuji, ingin dicintai. Ketika anda dipuji ketika anda merokok, mencoba seteguk alkohol, atau membiarkan ujung jarum suntik menembus pembuluh darah anda, oh betapa beratnya untuk mengatakan tidak. Betapa semua amaran dan pengajaran dari orang tua bahkan Tuhan itu seolah hilang tak berbekas. Ketika untuk merasa dicintai anda harus rela diajak berdua di kamar kos, bukankah sungguh sulit untuk tidak berkata ia.

Mungkin semua alasan itu, tak akan ada artinya lagi ketika tes laboratorium memvonis kita HIV positif. Ketika kita berstatus ODHA, entah apapun alasan kita tertular virus itu, bawaan orangtua, pasangan yang tidak setia, jarum suntik, narkoba, seks bebas, dan lain sebagainya, seakan sudah cukup memindahkan status sosial kita ke level sudra. Level dimana orang akan berkata, “Rasakan akibatnya”, “Makanya jangan coba-coba”, “Jangan dekat-dekat saya”, dan kata-kata penolakan lainnya. Suatu reaksi yang wajar mungkin mengingat betapa berat efek penyakit yang belum ditemukan penyembuhnya ini. Tapi bukankah seharusnya kita sadar, bahwa ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Jika kita masih belum rela membantu mereka, mungkin kita bisa mengusahakan jalan bagi generasi selanjutnya untuk tidak mengalami nasib yang sama.

Saya sendiri hanya sekali melihatsecara langsung penderita HIV. Ketika saya dan teman-teman mengadakan kunjungan sosial ke rumah sakit. Mencoba memberikan sedikit hiburan bagi pasien-pasien. Sungguh miris melihat keadaan pasien penderita HIV ini, tapi sungguh kami terenyuh ketika ia tersenyum, mengucapkan terimakasih atas perhatian kami. Lihat, hanya dengan sedikit perhatian, mungkin sudah cukup untuk membuat mereka sedikit tersenyum. Saya ingin melakukannya lagi, melihat sepercah harapan di wajah mereka, melihat setitik kegembiraan di mata mereka. Tapi segala macam urusan pekerjaan, keluarga, seolah menjadi alasan untuk tidak melakukannya lagi. I want to do more, bukankah anda juga?

Tapi saya juga ingin melakukan sesuatu. Sungguh miris melihat lingkungan dimana putri saya akan bertumbuh nantinya, lingkungan yang sungguh rawan akan bahaya tertular HIV. Oh ya, saya mempunyai seorang putri berumur 2 tahun 6 bulan. Galau rasanya hati ini ketika melihat pergaulan yang semakin bebas, narkotika yang makin gampang didapat, internet yang seakan tak punya keran membatasi pornografi, suatu saat akan menjadi lingkungan tempat putri saya tumbuh. Ketika anda diterjang gelombang setiap hari, anda harus memilih menjadi sebuah karang teguh bukan seonggok pasir, jika anda tidak ingin hanyut. Menjadikan putri saya teguh laksana karang dalam agama, pendirian, pengetahuan, bukan perkara mudah. Menjadikan dia pribadi yang bisa berteriak lantang berkata “Tidak”, bukan hal gampang. Orang tua di negara-negara barat katanya sering membekali putrinya dengan kondom ketika dijemput kencan oleh boyfriendnya. Duh, jangan sampai terjadi disini. Biarkan Tuhan saya membekalinya dengan pengetahuan agama, biarkan Tuhan dengan penurutan akan perintahMu, sudah cukup baginya menghindari free sex, narkotika, dan sejenisnya. Tugas kita, tugas anda, mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang bukan hanya pintar secara akademis, bukan hanya kuat fisiknya namun teguh dalam agama, teguh dalam memegang kebenarannya. Berat kawan, tapi harus. Ku berjanji tak akan pernah bosan memberikan pelajaran agama dan budi pekerti. Ku berjanji tak akan pernah lalai memonitor pergaulannya. Ku berjanji akan meluangkan waktu berbagi pikiran dengannya, agar ketika masalah datang, bukan alkohol atau narkotika yang menjadi pilihan solusinya. Ku berjanji anakku, untuk bertanggung jawab, karena telah menghadirkanmu di dunia ini.

 

Domisili : Bandung


Hahaha…Hahaha…

  • Temen Gue ketemu Cinta Laura lg pengen beli sesuatu

    CintaLaura : Mas,ada Koucing Anggoura?
    Yang Jaga Toko : Gak ada Mbak…
    CintaLaura :Kalo koucing Persyia???
    Yang Jaga Toko : Gak ada juga mbak…
    CintaLaura: Oh god!! Okay!! Kalo koucing kempoung (kucing kampung)?
    Yang Jaga Toko : Gak ada juga…. kita gak jual kucing mbak….
    CintaLaura :Hey!!! so why!!!??? Kenapa di depan kamyu tulies “toko CAT”??!!X_X =D

  • Saat berbincang-bincang soal makanan pada Jamuan
    Makan Malam di Istana Negara, Michelle Obama bertanya pada Ibu Ani, “Do you like salad?” Bu Ani menjawab,”Of course, 5 times a day!” Michelle kaget (koq doyan amat, sampai 5x sehari makan saladnya)… “What kind of salad do you like?” Bu Ani menjawab, “subuh, zuhur, ashar, maghrib, and
    …isya madame!”….=))

 

  • BREAKING NEWS ; Presiden obama menyatakan tidak akan pernah mau mengunjungi Universitas Indonesia lagi krn menurut Presiden Amerika itu kalo kuliah lebih baik ke BSI aja….:D

 

  • Seorang baby sitter yg baru saja kerja di majikan barunya.. sedang merayu anak majikan nya agar mau tidur siang ,,, Baby sitter : ” bobo yuuuk de…” ,,, Si anak menjawab : “dasar kau keong racun, baru kenal sudah ngajak tidur…”

 

  • Di jamuan makan malam kenegaraan tadi malam, Ibu Ani pengen banget ngobrol sama Obama. Tapi secara bahasa Inggrisnya kurang lancar, Ibu Ani malu untuk memulai pembicaraan.

    Saat makanan utama yang adalah Mie Bakso dihidangkan, Obama tampak lahap menyantap makanan kesukaannya itu.

    Bu Ani melihat peluang untuk membuka pembicaraan.

    A : Mr. President, do you like mie ?

    O : (agak kaget) well, yes offcourse Mrs. Yudhoyono

    A : Enjoy mie, still hot you know..

    O : *pingsan*

 

  • Jaga kesehatan ya Sayang …
    Makan teratur, selalu ceria dan jangan larut dlm kesedihan, bobo yg cukup ya please…
    Aku gak mau kamu sakit, karena hari yang kita tunggu udah dekat.

    Dari yg menantimu…
    (PANITIA QURBAN)

 

  • A little boy walks up to his dad and says, “Dad! A boy in my class called me gay!”. Angry the father replied,”Well son, next time you see him, hit him real hard!”. The son replies , “I can’t dad, he’s soooooo cuuuuuute!” *jiaaaahhhh*

 

  • Salah satu calon pengganti mbah Marijan adalah Ketua PSSI, Nurdin Halid, yang sudah berulang kali membuktikan kemampuannya membawa PSSI ke posisi Juru Kunci..

Mendur Bersaudara, Pejuang Bersenjatakan Kamera

Disadur dari Tulisan Kristupa Saragih di Kompasiana http://sejarah.kompasiana.com/2010/08/17/mendoer-bersaudara-pejuang-bersenjatakan-kamera/

Suatu pagi di bulan puasa, 17 Agustus 1945. Frans Sumarto Mendur mendengar kabar dari sumber di harian Asia Raya bahwa ada peristiwa penting di kediaman Soekarno. Alexius Impurung Mendur, abangnya yang menjabat kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei, mendengar kabar serupa. Kedua Mendur Bersaudara ini lantas membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman Soekarno.

Kendati Jepang telah mengaku kalah pada Sekutu beberapa hari sebelumnya, kabar tersebut belum diketahui luas di Indonesia. Radio masih disegel Jepang dan bendera Hinomaru masih berkibar di mana-mana. Patroli tentara Jepang masih berkeliaran dan bersenjata lengkap. Dengan mengendap-endap, Mendur Bersaudara berhasil merapat ke rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta tatkala jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.

Pukul 8, Soekarno masih tidur di kediamannya lantaran gejala malaria. Soekarno juga masih lelah sepulang begadang merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1. Dibangunkan dokternya untuk minum obat, Soekarno lantas tidur lagi dan bangun pukul 9.

Frans Mendur/IPPHOSLatief Hendraningrat, anggota Pembela Tanah Air (PETA), mengibarkan bendera Merah Putih usai Soekarno-Hatta bacakan naskah proklamasi di Jakarta, 17 Agustus 1945. Foto oleh: Frans Mendur/IPPHOS

Di Jakarta, pukul 10 di hari Jumat pagi itu Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, tanpa protokol. Hanya Mendur Bersaudara yang hadir sebagai fotografer pengabadi peristiwa bersejarah Indonesia.

Frans berhasil mengabadikan tiga foto, dari tiga frame film yang tersisa. Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air). Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

Usai upacara, Mendur Bersaudara bergegas meninggalkan kediaman Soekarno. Tentara Jepang memburu mereka. Alex Mendur tertangkap, tentara Jepang menyita foto-foto yang baru saja dibuat dan memusnahkannya.

Adiknya, Frans Mendur berhasil meloloskan diri. Negatif foto dikubur di tanah dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya. Tentara Jepang mendatanginya, tapi Frans mengaku negatif foto sudah diambil Barisan Pelopor.

Frans Mendoer/IPPHOSSuasana upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, pada hari Jumat, 17 Agustus 1945. Foto oleh: Frans Mendoer/IPPHOS

Meski negatif foto selamat, perjuangan mencuci dan mencetak foto itupun tak mudah. Mendur Bersaudara harus diam-diam menyelinap di malam hari, panjat pohon dan lompati pagar di sampaing kantor Domei, yang sekarang kantor Antara. Negatif foto lolos dan dicetak di sebuah lab foto. Resiko bagi Mendur Bersaudara jika tertangkap tentara Jepang adalah penjara, bahkan hukuman mati. Tanpa foto karya Frans Mendur, maka proklamasi Indonesia tak akan terdokumentasikan dalam bentuk foto.

Proklamasi kemerdekaan Indonesia hanya diberitakan singkat di harian Asia Raya, 18 Agustus 1945. Tanpa foto karena telah disensor Jepang.

Setelah proklamasi kemerdekaan, pada bulan September 1945, fotografer-fotografer muda Indonesia bekas fotografer Domei di Jakarta dan Surabaya mendirikan biro foto di kantor berita Antara. Tanggal 1 Oktober 1945 BM Diah dan wartawan-wartawan eks harian Asia Raya merebut percetakan De Unie dan mendirikan Harian Merdeka. Alex Mendur pun pindah ke Harian Merdeka. Foto bersejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia karya Frans Mendur tersebut baru bisa dipublikasikan pertama kali pada 20 Februari 1946 di halaman muka Harian Merdeka.

Setahun setelah kepindahan ke harian Merdeka, kakak-beradik Frans dan Alex Mendur menggagas pendirian Indonesia Press Photo Service, disingkat IPPHOS. Turut mendirikan biro foto pertama Indonesia tersebut, kakak-beradik Justus dan Frank “Nyong” Umbas, Alex Mamusung dan Oscar Ganda. IPPHOS berkantor di Jalan Hayam Wuruk Nomor 30, Jakarta sejak berdiri 2 Oktober 1946 hingga 30 tahun kemudian.

Koleksi foto IPPHOS pada kurun waktu 1945-1949 konon berjumlah 22.700 bingkai foto. Namun hanya 1 persen saja yang terpublikasikan. Foto-foto IPPHOS tak hanya dokumentasi pejabat-pejabat negara, melainkan juga rekaman otentik kehidupan masyarakat di masa itu.

Keluarga Mendur adalah putra daerah Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alex Mendur lahir 1907, sementara adiknya Frans Mendur lahir tahun 1913. Frans belajar fotografi pada Alex yang sudah lebih dahulu menjadi wartawan Java Bode, koran berbahasa Belanda di Jakarta. Frans lantas mengikuti jejak abangnya menjadi wartawan pada tahun 1935.

Foto monumental lain karya Alex Mendur adalah foto pidato Bung Tomo yang berapi-api di Mojokerto tahun 1945, dan tapi sering dianggap terjadi di hotel Oranje, Surabaya. Foto monumental lain karya Frans Mendur adalah foto Soeharto yang menjemput Panglima Besar Jendral Soedirman pulang dari perang gerilya di Jogja, 10 Juli 1949.

Kala itu nama Mendur Bersaudara sudah terkenal di mana-mana. Keberadaan mereka diperhitungkan media-media asing. Tapi Mendur Bersaudara dan IPPHOS tetap idealis untuk loyal kepada Indonesia. Padahal, secara etnis Minahasa, sebenarnya Mendur Bersaudara bisa saja dengan mudah merapat ke Belanda. IPPHOS tetap independen, di kala kesempatan bagi Mendur Bersaudara terbuka luas untuk meraup lebih banyak uang dengan bekerja untuk media asing.

Semasa hidupnya, Frans Mendur pernah menjadi penjual rokok di Surabaya. Di RS Sumber Waras Jakarta pada tanggal 24 April 1971, fotografer pengabadi proklamasi kemerdekaan RI ini meninggal dalam sepi. Alex Mendur tutup usia pada tahun 1984 juga dalam keadaan serupa. Hingga tutup usia kakak-beradik Frans dan Alex Mendur tercatat belum pernah menerima penghargaan atas sumbangsih mereka pada negara ini. Konon, mereka berdua pun ditolak untuk dimakamkan di Taman Makan Pahlawan Kalibata.

Baru pada 9 November 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi kedua fotografer bersejarah Indonesia ini, Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur, penghargaan Bintang Jasa Utama.