Konsumerisme, Agama Baru Kita

Desember dan Januari adalah bulan-bulan penuh kegembiraan bagi ibu-ibu dan mungkin juga bapak-bapak. Mengapa, karena di bulan inilah ada THR kemudian ada SHU, gaji 13, belum lagi di Januari gaji pasti naik. Dan disaat inilah dimana uang berlimpah, di department store banyak barang yang ditawarkan dengan discount gila-gilaan, kita pun menghabiskan berkat-berkat Tuhan itu untuk barang-barang demi kepuasan kita. Kita mulai diperbudak dengan konsep konsumerisme, aneka barang yang didiscount sampai lebih dari separuh harga membuat kita mau lebih dan lebih lagi berbelanja. Kartu kredit yang memungkinkan kita mendapat barang walaupun tidak pegang uang membuat rumah kita penuh dengan barang yang masih dicicil. Kita tidak pernah merasa puas lagi, kita mulai menilai diri kita dan orang lain dari apa yang dimiliki bukan dengan karakter yang mereka miliki. Pernahkah kita berpikir dengan semakin besar penghasilan kita, kita semakin tidak merasa puas, kita selalu merasa kurang. Apa yang kurang? Yang kurang adalah pengendalian diri kita, jika kita mengejar kepuasan dunia ini berapapun besarnya penghasilan kita tak akan pernah terasa cukup. Siapkah kita membagi kepunyaan kita dengan orang lain. Jika kita siap, rela, ikhlas itulah saat dimana kita akan merasa puas dengan berkat-berkat yang Tuhan berikan bagi kita. Kristus mau agar kita membelanjakan uang kita untuk hal-hal yang bertahan selamanya. Berikut ini ada 9 hal yang bisa kita lakukan untuk menjauhkan konsumerisme dan mempraktekkan kesederhanaan yang disadur dari Richard J.Foster, Celebration of Discipline:

1. Belilah barang-barang untuk kegunaannya bukan karena statusnya.

Pernahkan kita sadar banyak barang yang kita beli bukan untuk kegunaannya tapi supaya orang lain menilai status kita karena memiliki barang itu. Contohnya handphone, kalau kita emang hanya butuh fasilitas SMS atau nelpon kan tidak perlu handphone yang 3G atau punya kamera 3 megapixel, tapi karena kita ingin kita dilihat orang keren maka kita pun berusaha memiliki handphone yang mungkin harganya 2 bulan gaji kita. Apa yang terjadi kalau kita mengejar status waktu membeli barang, kita tak akan pernah puas, barang pasti akan out of date, sehingga kita pun harus beli yang lebih baru lagi supaya up to date. Masih ingat waktu Nokia 6600 pertama kali muncul, wah orang yang punya rasanya udah orang paling keren di dunia, tapi sekarang, gak ada keren-kerennya lagi 6600.

2. Tolak segala sesuatu yang menimbulkan kecanduan dalam diri anda.

Segala bentuk kecanduan walaupun itu hal yang baik tidaklah bagus. Olahraga sangat bagus, tapi kalo tiap hari anda main futsal sampe jam 10 malam juga tidak bagus. Jangan kecanduan.

3. Kembangkan suatu kebiasaan memberi barang kepada orang lain.

Kalau kita biasa memberi, kita tidak akan mudah terpengaruh dalam perangkap konsumerisme. Ada kepuasan batin yang sangat dalam jika kita memberi. Coba anda lakukan, memberi pada orang yang tak dapat membalas pemberian anda. It’s gonna feel so great.

4. Tolak untuk termakan tebar pesona mereka yang menjual alat-alat modern.

5. Belajar menikmati barang-barang tanpa memilikinya.

Jika anda belum mampu beli mobil, mungkin nikmatilah menggunakan mobil rental. Jangan paksa diri anda untuk memiliki jika belum cukup punya kemampuan untuk itu.

6. Kembangkan apresiasi yang lebih dalam akan ciptaan Tuhan.

Daripada anda pergi ke mall, nonton bioskop, coba anda lebih sering wisata ke pegunungan, pantai, ajak keluarga ke taman. Anda akan hidup jauh lebih sederhana dan lapang.

7. Bersikaplah skeptis terhadap skema beli sekarang, bayar nanti.

Artinya kalau gak penting banget mending jangan berhutang. Kalau tidak bisa mengendalikan diri jangan punya kartu kredit. Betul?

8. Bertutur katalah dengan sederhana dan jujur.

Orang yang jujur dan bertutur kata sederhana akan jauh dari godaan konsumerisme.

9. Jauhi segala seusatu yang mengalihkan perhatian anda dari terlebih dahulu mencari Surga.

Apapun yang anda mau lakukan dahulukan Tuhan anda, dahulukan kepentingan akhirat, dan yang lain akan ditambahkan kepadamu.

Amin

One thought on “Konsumerisme, Agama Baru Kita

  1. You actually make it appear so easy with your
    presentation however I find this topic to be actually something that I
    believe I would never understand. It slrt of feels too complicated and very
    large for me. I’m taking a look forward in your subsequent
    put up, I’ll try to get the hold of it!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s