Diambil dari sisa sampah hotel dan restoran Waspadai Peredaran Daging Sampah

Jakarta, KOMENTAR 13 September 2008
Ini benar-benar keterlaluan. Daging (ayam, sapi atau ikan) dari sisa sampah hotel dan restoran yang sudah berbau busuk, lembek dan berlendir, didaur ulang dan dijual di tengah masyarakat. Gilanya lagi, praktik ini sudah ber-langsung selama lima tahun. Oleh sebab itu, masyarakat diminta waspada terhadap peredaran daging busuk ini.
Daging sisa sampah maka-nan yang diolah kembali ini, ditemukan beredar di pasar di Jakarta Barat. Untuk mengela-
bui konsumen, penjual meng-goreng daging-daging lainnya untuk dicampur. Daging-da-ging tersebut kemudian dita-ruh dalam baskom lalu dijual ke pasar. Di pasar daging jenis ini dijual dengan harga Rp 8.000 per kilonya atau Rp 1.000 per bungkusnya.
“Sesuai peraturan daging se-perti ini sangat dilarang, untuk itu kami grebek tempat pem-buatannya,” ujar Kepala Suku Dinas (Sudin) Peternakan dan Perikanan Jakarta Barat, Chai-dir Taufik, Kamis (11/09). Peng-grebekan yang dibantu dengan Kepolisian Resor Jakarta Barat itu dilakukan di RT 04 dan RW 07 Kelurahan Kapuk, Cengka-reng, Jakarta Barat. Sebelum penggrebekan, Sudin sudah melakukan pengawasan terha-dap jenis-jenis pangan tidak se-hat dan menyalahi aturan. Pe-nyelidikan dan pengawasan itu dilakukan selama seminggu se-belum puasa dan 10 hari sete-lahnya.
Awalnya justru di pasar-pasar yang ada di Jakarta Barat dicu-rigai ada peredaran daging ge-longgongan baik sapi atau ung-gas dan daging oplosan antara daging sapi dan celeng (babi hutan). “Tapi hal itu tidak kita te-mukan, malah menemukan daging campuran itu,” kata Chaidir. Chaidir menjelaskan, berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, mengedarkan pangan yang mengandung bahan kotor, busuk, tengik dan ter-urai atau bahan yang berasal dari bangkai sangat dilarang. Ancaman adalah penjara se-lama 1 tahun atau denda sebe-sar Rp 120 juta. “Daging seperti itu dilarang juga karena meru-sak kesehatan,” kata Chaidir.
Agar terhindar dari risiko itu, Chaidir mengatakan, konsumen harus jeli memilih pangan yang hendak dibeli. Khusus untuk daging sisa tersebut, sangat mudah dikenali dari baunya. Bentuknya yang tidak bera-turan seharusnya sudah mem-buat pembeli curiga. “Bahkan masih terlihat tulang-tulang-nya,” katanya
Sementara itu, Darno, salah satu tukang masak daging bekas itu mengatakan setiap hari ada orang yang mena-warkan daging bekas seharga Rp 100.000. “Jumlahnya tidak tentu, seadanya saja tapi harga tetap,” katanya.
Daging yang sudah dia go-reng, kata Darno, selalu ada orang yang mengambil. Jika ada yang sisa dari daging bekas olahan itu akan dia salurkan ke pasar-pasar. Dia mengaku sudah menjalani kegiatan ini sekitar lima tahun. Polisi kini sedang menyelidiki jaringannya.
Dari Manado, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulut, Gemmy Kawatu SE MSi menandaskan, kasus yang merebak di Jakarta tersebut, belum ditemukan di Sulut. Meski demikian, pihaknya tetap melakukan pengawasan. “Be-kerjasama dengan BPOM kita akan melakukan pengawasan terhadap kemungkinan seperti itu,” ungkapnya. Lebih lanjut di-katakan Kawatu, pihaknya sama sekali tidak mengharap-kan hal semacam itu terjadi di Sulut. “Oleh karena itu, kita sa-ngat mengharapkan keterliba-tan masyarakat melakukan pengawasan dan kalau ada te-muan segera dilaporkan,” tu-kas Kawatu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s