Kakek 77 Tahun:Hidup Mandiri Di Tengah Jakarta

Harian Kompas, Minggu, 28 September 2008 | 07:09 WIB

JAKARTA, MINGGU – Bila Anda kebetulan berkunjung ke terminal bus Pulo Gadung, Jakarta Timur, perhatikan para pedagang asongan yang berada di tempat kedatangan bus TransJakarta. Diantara beberapa pedagang tersebut, ada satu pedagang yang mengalami cacat di tangan sebelah kanan. Meskipun begitu, dia terlihat cekatan dalam melayani setiap pembeli yang membeli dagangannya. Pedagang tersebut bernama Muchtar, seorang cacat yang tidak mau mencari nafkah dari belas kasih orang. Muchtar kehilangan tangan sebelah kanannya, ketika mengalami kecelakaan di Bengkulu tahun 1979, saat dia masih berprofesi sebagai pedagang sayuran. “Kecelakaan itu benar-benar merenggut harapan dan cita-cita saya, karena saat itu usaha dagang sayur yang saya geluti sedang berkembang dengan pesat,” kata Muchtar. Pria yang mempunyai tujuh orang anak tersebut, sempat putus asa dan terus merenungi nasib hidupnya tanpa melakukan aktivitas apapun selama enam tahun, lantaran kecelakaan itu. Namun, dia tersadar bahwa kejadian tersebut merupakan ujian dari Yang Kuasa. “Untunglah saya mempunyai istri dan anak-anak yang setia mendukung dan membesarkan hati saya. Dengan semangat, saya putuskan untuk merantau ke Jawa mulai pada tahun 1985. Dengan mencoba mengadu nasib di beberapa kota di Jawa,” tutur Muchtar. Petualangan Muchtar sebagai pedagang minuman ringan dan rokok di terminal Pulo Gadung, diawali kakek berusia 77 tahun tersebut pada 1995. “Dari mulai rokok Dji Sam Soe masih berharga sekitar tiga ribuan, sampai sekarang sebungkus Dji Sam Soe sudah seharga sepuluh ribu,” katanya. Muchtar merasa bersyukur atas pemberian karunia Tuhan sampai saat ini, karena masih menjadikannya sebagai seorang pedagang, bukan seorang pengemis yang harus mengais rezeki dari belas kasih orang lain. “Dengan berdagangan asongan seperti ini, membuat saya masih mempunyai harga diri di depan istri, anak, dan juga kerabat yang lain. Saya tidak mau dianggap sepele oleh orang, hanya karena tangan saya cacat,” ujarnya. Muchtar mengatakan, banyak juga orang yang mengasihaninya dan memberikan sumbangan berupa uang. Namun, semua itu dia tolak dengan baik-baik. “Sebab saya merasa masih bisa mencari uang sendiri tanpa harus dikasihani orang. Dari usaha berjualan asongan ini, sudah cukup buat biaya kehidupan sehari-hari,” sambungnya. Pria yang mengaku membenci minuman keras tersebut, memulai aktivitasnya dari pukul 10.00 Wib pagi sampai sore hari. “Nggak ngoyo mas, paling kalau capek ya saya tinggal tidur. Soalnya semakin tua badan ini, jadi terasa cepat capek,” jawab Muchtar. Dengan wajah yang mulai terlihat keriput, dan keterbatasan yang dimilikinya. Muchtar terlihat cekatan dalam memberikan pelayanan kepada para pembeli. Dan semua pelayanan itu, dilakukan Muchtar hanya dengan satu tangan yang masih tersisa. “Untungnya juga lumayan, apalagi saat ini waktunya orang mudik sehari saya bisa mendapat keuntungan seratus ribu dari jualan seperti ini,” katanya. Saat ini Muchtar tinggal bersama dengan anak bungsunya, di belakang terminal bus Pulo Gadung, tepatnya di RT 2/2, Rawa Teratai, Pulo Gadung. “Kosnya sebulan tiga ratus ribu, tapi saya tidak diperbolehkan membayar oleh anak bungsu yang tinggal bersama saya,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s