Hadirkan Tamu Pemakan Mayat dan Kodok, Empat Mata Ditutup

Harian Komentar, 5 November 2008

TALKSHOW dengan rating tinggi Empat Mata ditutup sampai 3 Desember 2008 oleh Komisi Penyiaran In-donesia. Ini gara-gara acara yang dipandu Tukul itu menghadirkan si pema-kan mayat, Sumanto dan pemakan kodok serta binatang hidup, Ibu Lina. Episode tersebut ditayangkan Trans7 pada 29 Ok-tober 2008.
Adegan melahap kodok hidup dinilai sudah berlebihan. Apalagi bintang tamu lainnya Sumanto, sempat ditanyai Tukul pengala-mannya saat memakan mayat.
KPI berhak memberikan sanksi administrasi. Kita sudah melaku-kan teguran sebanyak tiga kali. Tapi tidak dipatuhi, maka kami hen-tikan tayangan itu sementara, kata Ketua KPI Sasa Djuarsa Sen-jaja dalam keterangan pers di kan-tornya, Jakarta, Selasa (04/11).
model-asal-australia-lupa-namanyaDituturkan Sasa, ada bebe-rapa alasan yang membuat KPI menghentikan semen-tara tayangan tersebut. KPI menilai Sumanto tidak layak untuk dijadikan
nara sumber, karena tergolong orang gila. Dalam jurnalistik orang gila bukan nara sumber yang bisa dipertanggung-jawabkan. Selain itu, ada juga sumber yang memakan hewan hidup-hidup. Dari tayangan tersebut, program empat mata Trans7 melanggar pasal 28 ayat 3 dan 4 dan pasal 36 UU Penyiaran.
Pembawa acara mem
per-olok Sumanto dan para pe-nonton menikmatinya. Lalu ditanya bagaimana rasanya makan mayat, ungkap dosen komunikasi UI.
Setelah penayangan itu, Sasa mengakui, KPI banyak menerima kecaman dari ma-syarakat. Jika, nantinya Trans7 tetap menayangkan program
empat mata, maka KPI akan menjatuhkan sanksi berupa denda sesuai dengan ketentuan UU Penyiaran.
Setelah masa penghentian tayangan program selesai, jika program tersebut mau ditayangkan lagi. Maka pihak Trans7 harus konsultasi dulu ke kita, papar Sasa.
La
lu apa tanggapan Tukul? Aku pasrah karo sing gawe urip (pasrah kepada Tuhan). Jiwa besar lapang dada, di-perpanjang apa tidak, enggak masalah, kata Riyanto, nama asli Tukul Arwana.
Sebagai host saya cuma be-kerja, tidak lebih dari itu, katanya.
Menurut Tukul, awalnya dia sering dilibatkan dalam me-nentukan kelayakan topik dan materi Empat Mata. Ben-tuk pelibatannya, kata dia, antara lain ia diminta per-timbangan setiap topik yang hendak ditampilkan. Bela-kangan, Tukul jarang dimin-tai saran.
Tapi,
saya selalu bertanya. Apakah ini sudah dipertim-bangkan, dipikirkan masak-masak? Mereka, produser dan tim kreatif Empat Mata, selalu menjawab sudah. Enggak bahaya, ya sudah…, tuturnya.
Artinya, yang bertanggung jawab materinya mereka (tim kreatif dan produser Empat Mata). Saya enggak ngerti, tugasku hanya menghibur.
Ia mengakui, pembagian tu-gas dalam Empat Mata peran dirinya cuma menciptakan suasana hiburan yang segar, menyenangkan dan gampang dicerna pemirsa. Hasilnya, Terbukti sudah 550 epis
ode, pemirsanya betah nonton, ujarnya. Tak bermaksud som-bong. Berjuta-juta pemirsa Empat Mata, katanya, merasa terhibur. Kabar itu ia peroleh dari berbagai komentar baik langsung mau pun melalui orang lain. Orang Indonesia yang berada di mancanegara pun gandrung dengan taya-ngan Trans7 saban Senin sampai Jumat itu.
Agedan makan kodok hidup dan mengundang Sumanto, si pemakan mayat, Tukul tak bersedia menjelaskan alasan materi itu yang menjadi pi-lihan.

Betul, saya tidak mengerti sama sekali. Itu urusan
tim. Tugas saya tidak memikirkan materi, tapi bagaimana meng-hibur pemirsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s