Ideologi Kecantikan

Suara Merdeka, 10 Desember 2008

Razia terhadap produk-produk kecantikan yang dilakukan pemerintah belum lama ini telah membawa pada ironi dan tragedi. Betapa selama ini tubuh perempuan telah didisiplinkan sedemikian rupa untuk memenuhi kriteria
cantik. cimg1031

Pada saat yang sama, produk-produk disiplin wajah, warna pigmen kulit tangan dan kulit tubuh, yang kemudian disebut produk kecantikan itu menjadi racun yang mengerikan bagi tubuh itu sendiri. Apa yang terjadi dengan ideologi kecantikan masa kini? Tema kali ini membahas makna kecantikan dengan teropong sejarah ideologi, kapitalisme, dan budaya populer. (80)

DI tengah gempuran iklan dan media soal definisi cantik yang melulu fisik, ada sebuah survei yang diselenggarakan oleh sebuah produk perawatan kecantikan mengenai makna cantik menurut perempuan. Dari ribuan komentar yang masuk, hampir semuanya menilai cantik tak cuma sekadar fisik. Benarkan konsep kecantikan telah berubah?

Responden dalam survei ini semuanya adalah perempuan. Melihat cantik ditentukan juga oleh kepribadian, kebaikan, kepercayaan diri, kecerdasan, kebijaksanaan, kesuksesan ekonomi dan pekerjaan; bukan hanya yang berurusan dengan fisik, seperti wajah, bentuk dan ukuran tubuh, warna kulit, atau rambut hitam nan lurus.

“Cantik itu percaya diri dan ceria. Membuat hidup lebih bermakna untuk diri sendiri maupun orang sekitar. Cantik harus bisa mempengaruhi dengan tujuan yang positif,” tulis Christine Natalia, salah seorang responden.

“Cantik itu adalah hati yang tulus, peduli dan suka menolong keluarga, teman, dan setiap orang tanpa pandang bulu, tanpa harap balas jasa, tanpa paksaan. Cantik itu adalah kasih yang murni yang terpancar dalam perbuatan,” tambah Noortje Kumenit, responden dari Tomohon.

Warisan Kolonial

Persepsi tentang cantik dipengaruhi banyak hal, antara lain budaya, status, kekuasaan, dan uang. Konsep cantik juga selalu berubah dari waktu ke waktu. Kecantikan selalu menimbulkan debat dan tidak jarang direduksi menjadi persoalan politik atau budaya.

Sejak lama, cantik menurut ukuran Indonesia cenderung berkiblat ke Eropa. Hal ini dipengaruhi, langsung maupun tidak, oleh penjajahan Belanda dan Inggris selama ratusan tahun di Indonesia.

Perempuan-perempuan Eropa yang bertubuh tinggi, berkulit putih, berhidung mancung, yang masuk ke Indonesia pada zaman kolonial, menjadi gambaran ’ideal’ kecantikan pada waktu itu. Dengan alasan politis, para perempuan Belanda itu dicitrakan lebih beradab, pintar dan cantik di-bandingkan perempuan pribumi.

Gambaran kecantikan versi Eropa itu memasuki pikiran rakyat pribumi dan mengakar hingga sekarang. Terlebih semenjak 10 tahun terakhir, saat kebebasan komunikasi berkembang pesat, televisi menjadi agen ’propaganda’ dominasi dunia Barat terhadap Timur dalam hal kecantikan.

Televisi senantiasa menampilkan model-model berwajah indo. Bila pun memakai model asli indonesia, yang dipilih adalah mereka yang memenuhi standar Eropa.

Kriteria penilaian dalam kontes-kontes kecantikan pun menerapkan hal serupa; mencitrakan perempuan cantik adalah perempuan tinggi, berkulit putih mulus, dan bertubuh langsing.

Belum Berubah

Pencitraan cantik dengan standar Eropa itu membuat perempuan Indonesia tidak pernah merasa puas dengan dirinya. Mereka selalu berusaha menjadi semirip mungkin dengan citra perempuan cantik itu. Kosmetik pun berlomba menawarkan ’solusinya’.

Banyak produk menawarkan janji untuk bisa menambah tinggi badan. Tak sedikit pula ahli kecantikan yang mengklaim diri mampu mengubah penampilan seseorang, melalui operasi plastik. Bentuk hidung yang kurang mancung bisa dikoreksi, begitu pula lemak yang bertumpuk di perut bisa disedot habis. Dan yang tebanyak, tentu saja, produk pemutih kulit.

Lihat saja, hampir seluruh rak produk kecantikan di toko maupun supermarket selalu dipenuhi oleh produk pemutih, mulai sabun, bedak, alas bedak, pelembab, sabun pencuci wajah, hingga krim malam dan krim siang. Produk-produk pemutih itu laris manis, dari yang harganya murah meriah hingga puluhan juta rupiah.

Karena begitu gencarnya propaganda bahwa cantik harus putih, perempuan seperti kehilangan akal dan mau melakukan apapun asalkan kulitnya bisa berubah putih. Akibatnya, mereka jadi tak selektif memilih produk. Hal ini menjadi celah bisnis bagi pihak-pihak tertentu untuk memasarkan produknya yang mampu memberikan khasiat dalam waktu singkat, namun memiliki risiko berat.

Beberapa waktu lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan produk-produk kecantikan yang berbahaya. Ternyata, beberapa di antaranya adalah produk yang cukup akrab dengan perempuan Indonesia, yang banyak tersimpan di meja rias mereka. (Arisna Lestari SW, pemerhati masalah perempuan, tinggal di Semarang – 80).

One thought on “Ideologi Kecantikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s